Oleh karena itu, ketika seorang “native speaker” berbicara, maka ia hanya akan memikirkan tentang apa yang mesti dibicarakan. Akan tetapi, bagi seseorang yang baru saja belajar bahasa asing, ia harus berpikir tentang bagaimana cara berbicara, bagaimana mengucapkan fonem secara benar, bagaimana merangkai kata dan pertanyaan-pertanyaan teknis lainnya. Hal tersebut terjadi karena ia belum terbiasa terhadap bahasa yang baru dipelajarinya. Dalam hal ini mesti digaris bawahi bahwa, kebiasaan itu bersifat spontan, oleh karena itu, para “native speaker” dapat langsung berbicara tanpa perlu lagi memikirkan teknik berbicara.
Berdasarkan hal diatas, pengajaran bahasa asing adalah penanaman kebiasaan baru. sedangkan belajar bahasa asing adalah belajar kebiasaan baru. seorang guru harus membantu murid untuk mengenali –misalnya- fonem-fonem yang sama sekali baru dan berbeda dari bahasa yang biasa ia pakai, lalu mencoba untuk mempraktekkannya. Praktek-praktek tersebut harus dijalankan secara intensif hingga murid dapat terbiasa hingga mencapai tingkatan yang kurang lebih sama dengan native speaker. Memperbanyak latihan sangatlah penting, mengingat latihan-latihan dapat menciptakan kebiasaan.
Seperti halnya peristiwa pemerolehan bahasa, pengajaran bahasa asing tahap awal hendaknya berfokus pada kemahiran mendengar dan berbicara (maharah al istima’ wal al kalam). Sedangkan penanaman kemahiran menulis (maharah kitabah) dan membaca (maharah al qira’ah) hendaknya diberlakukan kemudian. Oleh karena itu, qaedah bahasa tak dibicarakan kecuali pada tahap-tahap lanjutan.
Jadi, kesimpulan yang dapat ditarik dari ulasan pendek ini adalah, bahwa bahasa adalah akumulasi kebiasaan. Sedangkan pembelajaran bahasa asing adalah proses untuk mendapatkan kebiasaan berbahasa yang baru.
Refferensi :
English Language Service
Inc , A Manual for Theacher, (New York, Macmillan Company, 1978)
Abd Aziz bin Ibrahim al
Ashily, Assasiyat Ta’lim al Lughah al Arabiyyah Li al Nathiqina bi Lughah
Ukhra, (Makkah, Umm al Qura, 1432 H)
Rusydi Ahmad Thuaimah, Ta’lim
al Arabiyyah li Ghayr al Nathiqina Biha, (Rabath, ISESCO, 1989).