Selasa, 19 Agustus 2014

Defenisi dan tanggapan ulama tentang Tadhad

Secara etimologis, al Tadhad berasal dari kata ضد-يضد-ضدا, yaitu sesuatu yang kontradiktif dan beralawanan. Sedangkan secar terminologis Tadhad adalah :
إن التضاد في العربية على النوعين يكون بين كلمتين مختلفتين شكلا مضمونا بينما في النوع الثاني تدل على نفس الكلمة على معنى و على نقضيه[1]
“dalam bahasa Arab Thadad terbagi menjadi dua, yaitu dua kata yang memiliki makna berlawanan, dan yang kedua adalah satu kata yang memiliki dua makna, satu makna berlawanan dengan makna lainnya”
التضاد هو أن يكون للدال الواحد معنييا متضادان[2]

Al Tadhad adalah salah satu dari bentuk problematik makna kata dalam bahasa Arab. Tentang hal ini kalangan linguis Arab terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari linguis yang melihat makna berdasarkan leksikal atau mu’jami tanpa perlu melihat relasinya dengan aspek lainnya. Kalangang pertama ini terdiri dari Ibn Darastawayh, al Manajjid, al Rafi, dan Ibn Saidah. Sementara kalangan lain memiliki pandangan yang berebeda melakukan kajian makna dengan menggunakan beberapa pendekatan. Linguis yagn termasuk pada kelompok kedua adalah Al Anbari, Qutrub, Al Sijistani, al Asma’i, Tamam Hassan, Ahmad Muhktar Umar, Ibrahmin Anis, dan lain seabagainya.[3]  
Al Tadad adalah istilah yang lahir lewat sebuah prespektif dalam memahami sebuah kata. Bahwa kata tidak cukup untuk dipahami lewat makna leksikal saja, akan tetapi juga perlu melihat faktor-faktor lainnya seperti konteks pembiaraan. Kerebadaan al Tadhad adalah disebabkan oleh usaha untu memahami kata beradasarkan konteks kalimat. Secara umum al Tadhad adalah jenis kata yang ketika berada pada situasi yang berbeda melahirkan kata yang memiliki makna yang bertolak belakang dengan makna asalnya.
Oleh sebagian linguis, al Tadhad tidak dapat diterima. Salah satu linguis yang menolak al Tadhad adaah Ibnu Darastawaih. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ia adalah linguis yang meyakini bahwa kata mesti dipahami secara leksikal atau mu’jami saja. Dalam menunjukkan penolakan pada al Thadhad, Ibnu Daratawaih mengatakan bahwa Ibn Darustawaih menyatakan pendapatnya “bahasa adalah wadah ekspresi makna. Jika diperbolehkan menggunakan sebuah kata untuk menyampaikan dua makna yang saling berlawanan, maka usaha ini bukanlah bentuk ekspresi itu melainkan kebingungan dan kerancuan. Linguis lain yang menolak keberadaan al Tadhad adalah Tsa’lab. Ia menyatakan bahwa dalam sebuah kalam tidak terdapat kontradiksi, karena jika terdapat kontradiksi maka itu pasti menjadi membingungkan. Selanjutnya Tsa’lab mengatakan bahwa bagaimana mungkin hitam dimaknai sebagai putih dan sebaliknya.[4]
Kalangan yang menolak al tadhad mengatakan bahwa sesungguhnya al Tadhah itu adalah kata yang digunakan oleh dialek yang berbeda yang mana mereka memaknai kata tersebut secara berebeda-beda. Ketika suatu kabilah berinteraksi dengan yang lain, maka terjadilah pertukaran-pertukaran kata dan makna. Maka dari sinilah muncul apa yang disebut sebagai al Tadhah, yang mana pada dasarnya tidak ada.[5]  



[1] Masnal Zajuli, Qadhaya al Ma’na Fi al Lughah al ‘Arabiyyah min Khilal al Isytirak, (Jakarta, Quantum, 2000), hal 29.
[2] Ahmad Muhamad Qadur, Mabadi’ al Lisaniyyat, (Lebanon, Dar al Fikr al Ma’ashir, 1996), hal 318.
[3] Mahyuddin Ritonga, Semantik Bahasa Arab dalam Pandangan al Anbari, Kajian Tentang Makan al Tadad dalam al Quran, (Padang, Hayfa Press, 2013), hal 217.
[4] Ramadhan Abd al Tawwab, Fushul fi Fiqh al ‘Arabiyyah, (Kairo, Maktabah al Khaniji, 1993), hal 336.
[5] Ibid, hal 337

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Kalau menurut Isral, Al Tadhah itu ada atau tidak?